MENANGIS KARENA DUNIA….

Di MEDSOS punya ratusan bahkan ribuan teman
Di dunia nyata hanya puluhan
Saat terjepit tersisa beberapa yang setia
Kala menjadi jenazah tinggal keluarga yang paling peduli
Di alam kubur tiada yang menemani

Dunia laksana senda gurau, permainan dan ajang berbangga
Ia sejatinya tempat hukuman Adam dan Hawa
Kegemerlapannya dihiasi kesulitan dan kesedihan
Tidaklah Allah Ta’ala menyebut kata bahagia melainkan di satu tempat

“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga,” (QS. Hud: 108)

Inilah buah kehidupan dunia akhir zaman:

Pertandingan sepak bola rata-rata 90 menit
Nonton sinetron 60 menit
Duduk di bioskop 130 menit
Tak lupa paket internet ratusan ribu menit
Shalat cuma 5 menit
Namun nereka Jahannam tak berdurasi

Hidup akumulasi nonton bola, sinetron, bioskop, internetan, ibadah dan kegiatan lain
Ia hanya sesaat, sesiang atau dari ashar hingga menjelang maghrib
Begitu singkat, namun penuh isyarat dan makna

Anda berada bukan di sebaik-baik zaman
Bukan pula dihasi banyak manusia terbaik
Jangan salah pilih tauladan, pergaulan, bacaan, tontonan, pendamping hidup plus mertua
Hati-hatilah, jika tidak ingin menderita, makan hati dan korban perasaan

Marak kegaduhan, tak perlu heran
Memang fitrah manusia ada kecendrungan menyimpang
Tapi tidak berlaku bagi yang berpegang pada ajaran Al Qur’an dan sunnah NabiNya

Setiap masa memiliki tantangan
Dahulu, kezaliman dan kesombongan mewabah
Kini, kecanggihan membuat banyak orang semakin terlena
Esok lusa fitnah dajjal lebih menggila

Fenomena beragama layaknya aksesoris dan seremoni
Seharusnya ia menjadi kebutuhan yang dibawa hingga mati
Ramai ramai manusia ingin dibilang trendi
Terus mengikuti gaya hidup bak selebriti

Banyak program televisi menawarkan kebodohan terkini
Ditonton jutaan pasang mata yang hampir kehilangan budi pekerti
Di sana para perempuan menjadi objek mata pencuri
Dari pagi hingga mentari enggan menampakkan diri
Semakin membuat bumi, langit dan gunung-gunung menangisi

Manusia adalah anak zaman yang mudah termakan buaian
Tak kuat dengan banyak tuntutan
Membutakan mata hati dan pikiran

Silau materi tetangga sebelah berharap cepat jadi jutawan
Tak sabar meniti jalan sempit penuh misteri bak hidup di hutan
Tak peduli apa kata Tuhan
Tak apalah yang penting dapat uang banyak dan bisa makan
Halal haram hantam tak diperdulikan

Tak perlu risau atas kesuksesan orang lain
Karena tiada yang tahu apa yang telah membuatnya menangis
Tak perlu pula bersedih hati atas ujian yang menimpa
Karena Allah Ta’ala Maha Adil
Sedikitpun tiada manusia yang dizalimi

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (QS: Al Mu’minuun: 62)

Semakin kuat kesabaran, maka akan dekat dengan rasa syukur
Semakin jarang bersyukur, maka siap-siap untuk terus bersabar
Maka pandai-pandailah bersabar dan bersyukur

Bersabar di dunia banyak manfaatnya
Namun di akherat tiada guna
Kesabaran sehebat apapun tiada mengurangi azab baginya

Pilihan hanya ada dua:

(1) Bersabar dan bersyukur di dunia
(2) Bersabar di Neraka. Ma’adzallah

Belajar bukan karena ada ujian
Mendidik tiada bahas zona nyaman
Mengajak kebaikan tanpa harap imbalan
Mengabdi jauh dari pencitraan

Manusia merdeka, ia yang tak terkekang jarak, ruang dan dinding waktu
Adapun budak, selalu dihiasi ketakutan dalam kebebasan. Alangkah sayang!

Manusia merdeka jauh dari riba, apalagi lilitan hutang
Pun dari kesewenang-wenangan orang
Sampai persepsi para pengigau yang suka sembarang

Sungguh! Banyak jalan dan kemudahan, kenapa tidak anda ringankan

Para penakut, selalu bicara jaminan, zona nyaman dan jauh dari pengabdian
Para pemberani, tak biasa jika hidup tak dihiasi tantangan, ujian dan perjuangan
Mereka tetap berjalan walau sendirian
Tiada kekawatiran perihal kehidupan
Hanya satu yang dirisaukan:

“TAKUT JAUH DARI TUHANNYA”

Kemarin, anda sudah lewati
Hari ini anda mengisinya dan takkan terulang
Esok anda tidak tahu akan ada di mana?

Batu nisan perkuburan tidak tercatat bagi lanjut usia saja
Lantas apa yang telah memperdayakan dan melalaikan?
Terlalu sibuk dengan urusan pribadi dan obsesi duniawi
Hingga melupakan fitrah, untuk apa manusia diciptakan!

Sebagai penutup, teriring salam dan munajat indah nan syahdu Nabi Yusuf ‘alaihi assalam:

“(Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101)

Semoga Allah Ta’ala yang Maha Pengasih mewafatkan kita semua dalam taubatan nasuha, husnul khatimah, diberi keberuntungan surga dan diselamatkan dari api neraka. Ya Robbana

Al faqir,

Depok, 13 Maret 2018

https://www.facebook.com/guntaranugraha.adianapoetra

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *