Di Maroko, Tunisia, dan Al Jazair itu negerinya sangat sekuler, anehnya kontestasi hafalan Quran tingkat dunia umumnya selalu dijuarai mereka.

Saya sendiri saksi dari kesekuleran negeri seribu benteng Maroko dengan segudang penghafal qurannya yang mutqin. Terlalu banyak penghafal disana, sehingga “biasa saja” antusiasnya.

Saya pikir², unik juga seh, lingkungan sekuler tapi Islamnya juga kuat, mungkin mereka tidak punya pilihan lain.

Mau jadi sekuler atau Islam secara kaffah…?!

Maka kita tidak perlu terlalu takut, atau mendramatisir keadaan apalagi over akting “membela” Islam.

Indonesia kadar sekulernya masih ringan, sesekuler² nya “kita”, masih hadir tahlilan kalau diundang, datang ke pesantren cari berkah, bahkan banyak yang mendadak jilbab, berpeci jika sudah memasuki tahun politik.

Lebih dari itu, di kita ada acara TV spesialis karma dan azab, yang ujung2nya mati mengerikan, kuburannya berasap, banjir, keluar binatang melata, bau busuk dan keanehan lainnya. Hanya ada di Indonesia kawans.

Anda tidak akan mendapati di luar sana judul sinetron

“Kisah tragis sang rentenir zalim”.

Satu lagi, di negeri-negeri Arab tidak ada kyai/ustadz komat kamit baca ayat sambil ngusir setan dalam potongan adegan sebuah film/sinetron?!

Di bioskop Timur Tengah, film komedi nan konyol jauh lebih ramai, film horor bisa jadi bahan tertawaan mereka, makanya tidak ada kuntilanak, pocong, tuyul, suster ngesot dan teman²nya masuk tv, apalagi bioskop disana.

Tidakkah kita memperhatikan?

Inilah hasil obrolan santai saya pagi ini dengan pembina Kampung Santri Cilembu-Sumedang

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *