Jujur, bahwa saya terinspirasi dari beliau; Dr. Zain An-Najah MA hafizhahullah untuk memilih jurusan Syariah Islamiyah di Azhar.
.
Walaupun dulu, ketika di Ma’had Aly Al-Islam saya mengambil jurusan Aqidah di bawah bimbingan ustadz Farid Ahmad Okbah dan Ustadz Ahmad Taqiyuddin hafizhahumallah.
.
Di antara hal yang membuat saya bertekad bulat untuk mengambil jurusan Syariah yang berkutat dengan fiqh dan sejenisnya ini adalah karena malu yang saya rasakan, tentu setelah faktor karena ingin beribadah kepada Allah dengan dalil.
.
Rasa malu itulah faktor kesekian yang membuat saya harus memperdalam fiqh; ceritanya seperti ini:
.
Ketika saya masih jadi kokohiyun, yaitu ketika saya masih keras-kerasnya dalam berpendapat karena hanya membaca dari satu sumber; saya belajar fiqh bersama Dr. Zain An-Najah hafizhahullah.
.
Pada suatu hari, ketika mengajar kami, beliau berkata: “Tidak ada dalil shahih yang mengatakan bahwa posisi tumit ketika sujud dirapatkan!”
.
Spontan saya kaget, telinga saya seolah baru mendengar sambaran petir yang keras, hati saya berontak, “kok Dr. Zain tidak nyunnah sih” gumam saya dalam hati.
.
Beliau melanjutkan, “Coba datangkan kepada saya dalil shahihnya”.
.
Ketika itu saya semakin su’u zhon sama beliau; karena apa yang beliau sampaikan banyak tidak sesuai dengan “Sunnah” sebagaimana menurut versi saya dan sumber tunggal yang saya baca.
.
Hari berganti hari, jika beliau shalat di Masjid Al Islam, saya selalu perhatikan gerak gerik sholat beliau; lagi-lagi saya dapatkan beliau tidak sesuai “Sunnah”; tepatnya pada saat shalat sunnah dua raka’at atau shalat subuh saya mendapati beliau duduk tasyahudnya tawarruk (layaknya duduk tasyahud akhir pada sholat yang empat rakaat).
.
Hal itu membuat saya semakin menganggap beliau kurang sunnah. Karena saya menganggap bahwa yang sunnah itu hanya “iftirasy” pada tasyahud sholat dua rakaat.
.
Puncaknya, karena sudah merasa beliau “jauh melenceng” dari “sunnah” akhirnya saya memutuskan untuk bertanya dan ngobrol empat mata. Dari obrolan itulah membuat saya malu; ternyata apa yang saya baca selama ini hanya pendapat dari satu sumber yang terkadang memang menggiring pengikutnya untuk bersikap keras terhadap pendapat lainnya yang berbeda.
.
Semenjak itu saya semakin semangat mencari tahu, semakin giat membuka-buka pendapat para ulama terhadap suatu masalah terkhusus pendapat Imam Empat yang sudah diakui masa.
.
Walhasil, sampai sekarang alhamdulilah, Allah beri kesempatan kepada saya untuk bisa bermuamalah langsung dengan kitab-kitab induk para ulama sehingga semakin tahu mana yang jujur dalam menyampaikan dan mana yang hanya memilih sesuai dengan selera.
.
*Catatan:* Bahwa Dr. Zain kemungkinan besar tidak ingat kejadian di atas, karena apalah cerita kecil itu, apalagi cerita dengan orang kecil pula. Memang para ulama banyak seperti itu, dalam “ketidak sadarannya” saja bisa menjadi wasilah seseorang mendapat hidayah. La nuzakki ‘alallahi ahadan, nahsibuhu kadzalika wallahu hasībuh.
.
Barakallahu fiikum
.
Fitra Hudaiya NA حفظه الله
(Mesir, Negeri Para Nabi)

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *