Adapun tentang bahwa Allah SWT itu ada di mana-mana, ada kalangan yang berhujjah dengan ayat berikut ini :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)

Kata ma’a inilah yang kemudian dianggap menunjukkan tempat seseorang berada. Seolah-olah tuhan itu ada dimana-mana. Walaupun ada sebagian kalangan yang kurang menerima hal itu dengan dengan mengatakan bahwa aku menyertaimu, meski pada kenyataannya tidak berduaan. Sebab kebersamaan Allah SWT dalam ayat ini adalah berbentuk muraqabah atau pengawasan.

Seperti ketika Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar ra di dalam gua,”Jangan kamu sedih, Allah beserta kita.” Ini tidak berarti Allah SWT ikut masuk gua. Juga ketika Musa as berkata, “Bersamaku tuhanku,” tidak berarti Allah SWT ada di pinggir laut merah saat itu.

Jikalau kamu tidak menolongnya maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS At-Taubah: 40)

Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS As-Syu’ara: 62).

Kesimpulannya, masalah Allah SWT ada dimana ini juga termasuk masalah yang agak berbau khilafiyah. Sebagian kalangan ada yang secara tegas menolak keberadaan Allah secara fisik, karena Dia tidak menempati ruang. Sebagian lagi tetap menggunakan istilah ‘Allah ada dimana-mana’ dalam arti pengawasannya.

Wallahu a’lam bishshawab

Ahmad Sarwat, Lc, MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *