Sejak semula memang nabi Adam telah disiapkan oleh Allah SWT untuk menjadi pemimpin, yang dalam bahasa Al-Quran disebut dengan khalifah. Kata khalifah sesungguhnya bermakna wakil atau pengganti. Maksudnya, Nabi Adam menjadi wakil Allah di muka bumi. Misinya agar bumi ini makmur, serta berjalan secara harmoni seiring dengan peraturan yang Allah tetapkan. Bukan saja peraturan untuk sesama anak Adam, tetapi juga peraturan tentang hubungan anak Adam dan alam semesta.

Dari segi pisik dan mental, Nabi Adam telah diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan, sebagaimana firman Allah SWT:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .(QS. At-Tiin: 4)

Namun dalam diri Adam ada titik-titik kelemahan, yang kalau tidak dijaga dengan baik, Adam akan melakukan kesalahan. Sebuah sifat yang memang manusiawi dan wajar. Namun titik-titik kesalahan ini memang dikenal betul oleh Iblis dan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Iblis melakukanya hanya sekedar untuk mengobati sakit hatinya dan dendam kesumat kepada Adam.

Namun Allah SWT telah memberikan bekal kepada nabi Adam untuk bisa menjaga diri dari gangguan Iblis dan sebangsanya. Pada bagian akhir Al-Quran, ada dua surat yang oleh Rasulullah SAW dijadikan sebagai perlindungan atas godaan dan jebakan Iblis.

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya.Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 1-5)

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.Raja manusia.Sembahan manusia.Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.dari (golongan) jin dan manusia. (QS. An-Naas: 1-6)

Makat saat Iblis dan keturunannya datang menggangu Nabi Adam ‘alaihissalamdan keturunannya, Allah SWT memerintahkan untuk membacakan dua surat di atas. Maka semua bentuk gangguan dan jebakan itu menjadi tidak ada artinya. Manusia akan menjadi sangat kuat dan tidak mempan untuk ditaklukkan. Tentu saja bila diiringi dengan iman dan tawakkal yang mendalam kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bishshawab,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *