Mengenal para ulama, lebih menjadikan kita selalu mengedepankan husnuzhon ketika mereka ada “kesalahan”.
.
Ketika Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi -hafizhahullah wa fakka asrah- rihlah menuntut ilmu ke India, terdapat salah seorang gurunya yang perokok.
.
Syaikh Ath-Tharifi belajar Shahih Bukhari dari guru yang merokok ini.
.
Syaikh Ath-Tharifi berkata: “Kalau jauh dari beliau, mungkin saya akan berburuk sangka bahwa beliau adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, akan tetapi karena saya dekat dan kenal; saya menjadi tahu bahwa beliau adalah orang shalih, hanya saja dalam masalah ini (rokok) beliau terkena syubhat”.
.
Syaikh Ath-Tharifi bersikap demikian karena beliau tahu bahwa gurunya ini adalah orang yang shalih, shalat malam-nya kenceng bahkan sampe nangis-nangis lagi. Walaupun demikian beliau tetap menyampaikan hujjah yang diyakini tentang masalah rokok ini.
.
Beradab kepada guru merupakan salah satu faktor yang menjadikan ilmu seseorang itu berkah; makanya saya lihat bagaimana ilmu dan kitab-kitab Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi hafizhahullah begitu cepat laris dan terus dicetak padahal beliau sedang berada di penjara. “Nahnu nahkumu bizh zhawāhir wallahu yatawallas sarāir”.
.
Ini juga menjadi bukti bahwa kurang tepat jika ada orang yang menolak mentah-mentah kaidah “ambil baiknya buang buruknya”; karena ada banyak tempat dan keadaan yang menuntut kita untuk mengamalkan kaidah ini, sebagaimana Syaikh Ath-Tharifi yang mengambil ilmu dari gurunya ini dan meninggalkan kebiasaan buruknya yaitu merokok.
.
Perlu diketahui bahwa Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi adalah ulama besar asal Saudi dan merupakan murid Syaikh bin Baz rahimahullah ta’ala. Wallahu a’lam
.
Barakallahu fiikum
.
Fitra Hudaiya NA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *