Zaman aktif di pergerakan dulu, kalau bisa sampai menikahi akhwat aktifis itu sesuatu banget. Ada semacam kebanggaan tersendiri kalau suami istri sama-sama aktifis.

Tapi ada beberapa ustadz senior ketika ngobrol pribadi justru punya sikap berbeda. Cukup suami saja yang aktifis istri tidak harus aktifis. Silahkan cari istri dari kalangan akhwat yang ‘biasa-biasa’ saja, tidak perlu yang aktifis.

Awalnya sikap seperti itu dianggap aneh, egois, kurang melebur ke jamaah, kurang interaksi, kurang totalitas.

Tapi lama-lama saran seperti itu ada benarnya juga. Suami yang aktifis 24 jam sehari dan 7 hari seminggu itu tetap butuh istirahat juga. Ada waktu-waktu untuk istirahat, ngaso, break dan rehat meski sesaat. Di saat seperti itulah peran seorang istri yang mendampingi menjadi sangat urgen dan nyata.

Tapi kalau istrinya juga aktifis, sama kayak suaminya, keluar rumah melulu, keluar kota melulu, nggak pulang-pulang juga seperti suaminya, kacau lah urusannya.

Rumah tidak ada yang ngurus, anak-anak keleleran, suami pulang butuh ditemani dan dilayani istri, tapi istrinya entah ngacir kemana ngejar karir nggak jelas.

Dulu saya mengira kalau suami istri aktifis dakwah, pastilah keluarganya sakinah, mawaddah dan rahmah. Ternyata banyak yang cerai dan bubar juga. Salah satunya justru karena dua-duanya sama-sama aktifis yang jarang-jarang punya waktu di rumah.

Suami istri semuanya sibuk dakwah, menjalankan ‘tugas suci’ dan melayani umat, walau pun resikonya secara internal cukup berat.

Meski tidak semua pasangan suami istri aktifis seperti itu kasusnya, namun realita dan resiko semacam itu tetap ada. Semua kembali ke masing-masing pasangan juga.

So, intinya punya istri yang bukan tokoh aktifis dakwah sebenarnya sah-sah saja. Tidak harus jatuh gengsi juga.

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *