Salah satu faktor orang bisa menerima ilmu adalah lapang dada. Meski sudah habis-habisan diajarkan, tapi kalau dada belum lapang, sulit juga menerima ilmu.

Argumentasi Umar untuk membundel lembaran mushaf sebenarnya kuat sekali tidak terbantahkan dengan logika manapun. Tapi yang membuat Abu Bakar setuju pada akhirnya bukan semata kekuatan hujjah Umar dab kalah beradu argumentasi.

Sebab argumentasi Abu Bakar pun tidak kalah kuat. Rasulullah SAW saja tidak pernah memerintahkan, tidak juga mengisyaratkan, kenapa kita harus melalukan? Lagian, bukankah urusan menjaga Al-Quran biar tidak musnah itu urusan Allah? Allah yang menurunkan dan Allah pula yang memeliharanya dari kepunahan.

Argumentasi dilawan argumentasi. Dua-duanya pakar dan dua-duanya genius. Saat itulah hadits menyebutkan bahwa Allah SWT melapangkan dada Abu Bakar, sehingga kemudian Abu Bakar bisa menerima usulan Umar. Dilapangkan dadanya oleh Allah, itu kuncinya.

Dan ketika keduanya memerintah Zaid bin Tsabit untuk menyatukan teks Al-Quran dalam satu bundel, awalnya Zaid menolak. Malah sambil bermetafora beliau bilang, perintahkan saja saya memindahkan gunung ketimbang mengerjakan proyek ini.

Namun akhirnya lagi-lagi Allah ‘turun tangan’. Dilapangkan dada Zaid sehingga akhirnya bisa menerima kebenaran. Seandainya dadanya tidak lapang, mana bisa hari ini kita baca seluruh ayat Quran dalam satu mushaf?

Maka dalam Al-Quran ada doa minta dilapangkan dada :

ربي اشرح لي صدري

Ya Allah, lapangkan dadaku.

Maksudnya, mudahkan Aku untuk bisa menerima ilmu dan kebenaran.

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *