Salah satu bab dalam matakuliah Ilmu Waris adalah tentang sejumlah orang yang wafat bersamaan waktunya. Misalnya karena tenggelam di air bersama, disebut dengan al-gharqa. Ada juga karena satu keluarga kerobohan rumah mereka sendiri dan semua wafat, disebut dengan al-hadma.

Hubungan antara sesama korban bisa saja mereka saling mewarisi. Suami istri, ayah anak, ibu anak, kakak adik dan seterusnya. Dan disitulah kemudian muncul masalah bagaimana cara membagi waris dengan sesama mereka. Tentu saja rumit dan kompleks sekali masalahnya.

Namun yang menggelitik saya hari ini bukan bagaimana cara bagi warisnya. Tapi ketika ada satu kapal tenggelam sudah berminggu-minggu, seberapa lama team SAR masih wajib melakukan pencarian jasad korban?

Kalau masih sehari dua hari mungkin masuk akal, karena bisa saja ada korban hidup dan masih bertahan. Tapi kalau sudah berminggu-minggu, secara nalar akal sehat, kemungkinan besar korban sudah jadi mayat semua.

Masalahnya justru muncul di titik ini, yaitu apakah wajib hukumnya untuk terus terusan melakukan pencarian atas mayat korban insiden tenggelam itu? Ataukah dibiarkan saja jasad itu ditelan air?

Bukan kah perintah dalam Islam untuk memperlakukan jenazah sebaik ketika orangnya masih hidup? Namun operasi pencarian pun tidak pernah berhasil karena sudah terlalu lama, mungkin karena medannya yang sulit dan seterusnya.

Ibda’u ara’akum ya jamaah wallahul muwaffiq

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *