Awalnya saya tidak terlalu peduli dengan istilahnya. Cuma memang agak penasaran juga dengan istilahnya. Kenapa ada tambahan kata ‘URUDH’. Kenapa bukan zakat tijarah saja?

Rupanya saya selama ini keliru menduga, ternyata zakat ini memang bukan zakat perdagangan seperti pajak pada transaksi jual-beli. Beda dengan ppn.

Sebab yang dikenakan zakat sama sekali bukan ketika dagangan kita laku dibeli orang. Bukan dan bahkan tidak ada hubungannya sama sekali.

Kena zakatnya karena kita menimbun atau nyetok barang yang kita jual. Dan namanya nyetok, justru barangnya masih di gudang milik kita dan belum laku dijual. Kalau laku dijual, malah justru tidak kena zakat.

Awalnya saya juga bingung. Kirain zakat tiap jual barang, terus kena charge zakat macam pajak gitu. Ternyata keliru besar sekali.

Itulah kalau belajar agama cuma dari hasil browsing, atau cuma nguping, katanya dan katanya. Tidak jelas kitab rujukannya.

Jadi akhirnya saya tahu bahwa kata ‘URUDH TIJARAH itu kurang lebih zakat atas barang yang dimiliki dengan niat untuk dijual. Dimana nishabnya sudah senilai 20 mitsqal (85fram emas) dan sudah ada di gudang kita selama setahun.

Jadi 100% bukan zakat penjualan.

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *