Dakwah itu mengajak, sedangkan taklim itu menjelaskan ilmunya.

Dakwah itu ibarat memotivasi orang biar mau pergi haji ke tanah suci. Biar mau nabung, biar mendaftar, biar punya keinginan berangkat.

Sedangkan taklim itu ibarat pemandu atau muthawif yang mendirect jamaah saat di tanah suci. Jamaah sudah tidak perlu diajak-lagi pergi haj. Jamaahnya memang sudah sampai di tanah suci. Buat apalagi diajak-ajak.

Yang dibutuhkan jamaah adalah teknis detail pengerjaan haji, bukan lagi motivasi. Karena itu spesifikasi pembimbing yang dibutuhkan bukan motivator, tapi pembimbing berpengalaman yang tahu seluk beluk medan dan paham manasik haji.

Dewasa ini alhamdulillah, keinginan pergi haji itu sudah merata di semua barisan umat. Bahkan antriannya sudah 15 -20 tahun. Suply dan demand sudah gak seimbang. Problemnya justru terletak pada kebutuhan ilmu detail tentang haji.

Kalau semangat berislam, rasanya sudah merata di tengah umat Islam. Yang jadi problem sekarang ini adalah bagaimana umat Islam ini mendapatkan nutrisi sehat tentang ilmu-ilmu keislaman.

Kalau sampai bagian ini, kita mulai merasakan kelangkaan, mulai dari kelangkaan narasumber, kelangkaan jamaah dan juga kelangkaan majelis-majelis yang benar-benar menggelar ilmu syariah.

Padahal yang sudah sadar berislam makin berlipat, artis sudah pada taat, penceramah sering ngutip ayat, motivator pada jadi ustadz, preman pada rajin shalat, tukang dugem pada tobat, politikus menyerukan syariat, rocker pada baca shalawat, dan muallaf pada minta sunat.

Terus kalau sampai disitu doang dan mogok tidak memperdalam ilmu syariat, bisa-bisa pada kumat. Punya semangat tapi tidak paham ayat. Gairah emosi berlipat tapi ilmu di kepala tidak muat. Beragama secara tidak sehat. Semua orang dituduh sesat, kayak dia yang punya akhirat.

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *