Ganti saja istilah zakat profesinya dengan sedekah penghasilan. Maka uang itu bebas mau disalurkan buat apa saja, yang penting manfaat.

Tapi kalau masih keukeuh menamakannya dengan istilah zakat, justru malah jadi masalah, karena :

1. Islam tidak pernah mengenal zakat profesi. Tidak ada ayat atau hadits yg menyebutkan secara eksplisit. Dan belum pernah ada sepanjang 14 abad ini satu ulama yang mewajibkannya, kecuali baru sejak 50-an tahun yll saja oleh Qordowi cs.

Sebutlah Anda pendukung mazhab Qordowi, tapi apa iya seluruh umat Islam setuju? Setidaknya kita juga harus pertimbangkan begitu banyaknya pendapat yang tidak mendukung adanya zakat profesi.

Kita kudu realistis dalam satu masalah ini. Jangan merasa diri kita adalah tolak ukur kebenaran. Lantas semua orang harus salah.

2. Kalau masih keukeuh menyebutnya dengan zakat, maka imam dan marbot masjid tidak pernah masuk dalam salah satu kategori 8 asnaf zakat. Padahal ketentuan 8 asnaf ini ditetapkan dalam Quran.

Solusinya sederhana sekali, ganti istilah zakat profesi jadi sedekah profesi. Semua ketentuannya freestyle, bisa kita otak-atik seenak selera kita. Dan tiap orang berhak improvisasi sendiri sendiri, bebas berubah ubah kapan saja dia mau.

Kan bisa saja dia tidak bayar karena hukumnya sunnah. Namanya juga sedekah, bukan zakat.

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *