Sebutlah Fulan. Fakta dan keadaannya, selalu ranking 1, 2, atau 3, dari belakang. Bukan dari atas, hehehe. Dari SD, sd SMU.
.
.
Tapi emang impian, hak semua orang, yang yakin dan percaya, sama Allah, dan semua keajaiban impian.
.
.
Ia sangat memiliki impian ke Jepang. Ga tau gimana, selalu bilang, Jepang, Jepang, Jepang. Selalu nyebut Jepang. Selalu nulis Jepang. Dan suka sekali berbicara tentang dan apa-apa yang terkait dengan Jepang.
.
.
Hingga saat lulus, akhirnya dia kerja di perusahaan Jepang. Yang di Cikarang/Karawang/Bekasi. Hehehe. Bukan di Jepang beneran. Jadi apa? Jadi satpam.
.
.
Sampe sini, ga menarik buat yang ga percaya, bahwa segala sesuatu tetap berproses. Tapi buat yang percaya, segala sesuatu ada garisnya, dan garis itu bisa dibikin sendiri dengan Izin-Nya. Maka ini super menarik. Tanda, bahwa ia sedang berjalan menuju Takdir-Nya.
.
.
Di atas kereta api Sinkansen, yang membawa saya dari Tokyo ke Osaka, dan terus lanjut ke Hokaido, Fulan cerita. “Yang dites, kaki saya.” Katanya. Sambil tertawa. “Kalo yang dites, otak, saya ga akan lulus kali,” ia tertawa sendiri. .
.
Ya. Saat ia cerita, perhatikan. Di Jepang loh. Dan keliling Jepang. Sampe ke Hiroshima. Sama saya. Dan biasa banget, keliling Jepang. Bahkan saat itu, ia memproses dirinya masuk Universitas Tokyo. Asli keren. Membuat geleng-geleng kepala yang dulu meledek, “Hehehe, akhirnya kesampean. Jadi jongos Jepang.” Merujuk pada pekerjaannya, sebagai satpam perusahaan Jepang.
.
.
Fulan, berjalan dengan impiannya. .
.
Perusahaan itu, qodarullaah, bangkrut. Beberapa pekerja, dibawa majikan, ke Jepang. Termasuk Fulan ini. Subhaanallaah. Dan sampe Jepang, semua cerita hidup, berubah. Ia tidak menjadi satpam. Melainkan menduduki posisi yg memungkinkan ia terus belajar, berorganisasi, lebih baik lagi.

Ustadz Yusuf Mansur

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *