Menumbuhkan fitrah keimanan pada anak bukan hanya sekedar mengajari anak shalat, mengaji dan puasa. Lebih dari itu. Dan yang paling utama adalah menumbuhkan kecintaan anak kpd Rabb.

Bagian menumbuhkan kecintaan anak terhadap Rabb seringkali terlawati begitu saja. Padahal banyak cara dan mudah saja untuk menumbuhkannya lewat kegiatan sehari-hari. Yang paling mudah adalah dengan mengajari anak membaca basmalah dan hamdalah ketika akan memulai dan mengakhiri pekerjaan.

Kegiatan apa saja yang bisa orangtua lakukan untuk Usia 3 tahun ke atas:

1. Ajak anak untuk berdzikir diperjalanan. Jika jalanan menanjak, ucapkan takbir. Jika jalanan menurun maka bertasbih.
Ketika anak naik tangga, “Nak, kita mau naik tangga. Ayo sambil takbir. Allahu Akbar. Allahu Akbar”.
Kebayangkan perjalanan itu menyenangkan, tidak sia-sia, mengingat Allah, insya Allah bernilai ibadah.

2. Ketika anak mulai belajar tentang dunia lebih luas lagi selalu kaitkan dengan Allah dan quran.
Anak belajar tentang awan. Ajak anak buka quran. Cari ayat tentang awan. Jelaskan kepada anak.
Ingat, biasakan ketika anak bertanya sesuatu maka ambillah quran sebagai acuan. Quran bukan ensiklopedia. Kenapa? Agar anak terbiasa dan tertanam bahwa semua persoalan hidup dan apa yang ingin diketahui anak ada jawabannya di dalam quran.

3. Kenalkan kasih sayang Allah. Buat anak sadar bahwa kasih sayang Allah padanya begitu dekat.
Jelaskan keistimewaan dan kesempurnaan penciptaan tubuh dan panca indra anak.

4. Ajari anak tentang surga dan penghuni surga.
Sudahkah kita mengajari anak ttg karakteristik penghuni surga pada anak?
Beritahu anak, bahwa penghuni surga gemar melakukan kebaikan, berbicara lembut, beramal shalih, dll.
Kadang kita menginginkan anak masuk surga tapi kita lupa memberitahu anak seperti apa penghuni surga itu.

5. Jadikan alam sekitar anak sebagai laboratorium untuk mengenal Allah.
Ketika melihat tumbuhan. Jelaskan pada anak bagaimana Allah menumbuhkan tumbuhan. Katakan pula bahwa buah adalah rezeki yang Allah turunkan untuk manusia, dsb.

Menumbuhkan keimanan anak seperti membangun sebuah pondasi rumah. Tak nampak dari luar, tapi sungguh ia penyangga bagian lainnya. Butuh waktu dan proses yang lama agar menjadi pondasi yang kuat. Jika pondasinya kurang pas maka ubah lagi bangun lagi sampai bisa dibuat bagian rumah lainnya.

Jangan pernah menyerah, jangan pernah putus asa dan merasa sia-sia ketika menumbuhkan keimanan untuk anak. Memang memerlukan pengorbanan orangtua. Tapi bukankah balasannya berupa doa anak shalih dan surga? Setimpal.

Materi ini disadur dari buku “Setetes Iman Untuk Ananda”

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *