Hijrah sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi 2 syarat, yaitu;

PERTAMA : Ada sesuatu yang ditinggalkan.

KEDUA : Ada sesuatu yang dituju (tujuan).

Kedua-duanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Meninggalkan segala hal yang buruk, negatif, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menuju keadaan yang lebih yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.

Dalam realitas sejarah hijrah senantiasa dikaitkan dengan meninggalkan suatu tempat, yaitu adanya peristiwa hijrah Nabi dan para sahabat meninggalkan tempat yang tidak kondusif untuk berdakwah. Bahkan peristiwa hijrah itulah yang dijadikan dasar umat Islam sebagai permulaan tahun Hijriyah.

Tahun Hiriyah, ditetapkan pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sebagai jawaban atau surat Wali Abu Musa Al-Asy’ari.

Khalifah Umar menetapkan Tahun Hijriyah untuk menggantikan Kalender Tahun Gajah, Kalender Persia, Kalender Romawi dan kalender-kalendar lain yang berasal dari tahun peristiwa-peristiwa besar Jahiliyah. Khalifah Umar memilih peristiwa Hijrah sebagai taqwim Islam, karena Hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa paling monumental dalam perkembangan dakwah.

Roni ‘Abdul Fattah, M.A.
(Pengurus Lajnah Syari’ah & Dewan Asaatidz Pesantren Daarut Tauhiid)

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *