Makanan haram bisa disebabkan memang zatnya yang haram, seperti bangkai, daging babi, dan darah. Atau, karena haram cara mendapatkannya, seperti mencuri, riba, curang dalam jual beli, korupsi, atau suap.
Praktik mendapatkan harta dengan cara yang haram dapat dengan mudah disaksikan dizaman ini. Perampokan, penipuan, riba, korupsi, kolusi adalah contoh nyata. Makanan yang kotor dan haram akan memberikan pengaruh negatif terhadap hati, akhlak, dan menghalangi hubungan dengan Allah SWT, serta menyebabkan tidak terkabulnya doa.

Para salafus saleh sangat berhati-hati terhadap makanan yang masuk ke mulut dan perut mereka. Abu Bakar mempunyai pembantu yang selalu menyediakan makanan untuknya. ia pun memakannya. Setelah tahu bahwa makanan itu diperoleh dengan cara haram serta-merta ia masukan jari tangannya ke kerongkongan. Kemudian, muntahkan kembali makanannya yang baru saja masuk itu.
Iman An-Nawawi ketika hidup di negeri Syam, ia tidak mau memakan buah-buahan di negeri tersebut. Tatkala orang menanyakan tentang sebabnya, ia menjawab, “Di sana ada kebun-kebun wakafyang telah hilang ,maka saya khawatir memakan buah-buahan dari kebun itu.”

Oleh Ummu Fathin (Daarut Tauhiid)

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *