Dalam barisan para angsa yang jelita, kadang menyempil terheret-heret pula si itik buruk rupa. Yang keliru dari itik yang lebih rudin bentuknya dan lebih kusam bulunya itu adalah; jika ia merasa bahwa dirinya serupa dengan kawanan angsa, atau malah merasa lebih istimewa karena berbeda.

Ah iya. Berkawan dengan para shalih dan mulia haruslah disertai kesadaran bahwa kita belumlah bagian dari mereka; selalu ‘sedang menuju’, dan tak pernah ‘telah sampai’. Meski ada saatnya menjadi alat penyuci, debu tayammum seperti kami ini harus tahu, bahwa ia hanya bagian dari kotor yang harus dibersihkan ketika gemericik air wudhu tersedia tuk menjadi thaharah sempurna.

oleh Salim A. Fillah dalam Dakwah

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *