Orang yang kurang akal, umumnya senang menjatuhkan kehormatan saudara seiman, sebangsa dan setanah air ketika berbeda pandangan dan pendapat.

Padahal dalam sebuah kaidah.

“Semakin keras pertentangan, justru semakin lemah lembut kepadanya”.

Kaidah ini berlaku bagi saudara seiman bahkan orang kafir sekalipun.

Belajar dari kisah Nabi Musa dan saudaranya Nabi Harun ‘Alaihima assalam ketika berdakwah kepada Fir’aun la’natullah ‘alaih yang mengaku tuhan dan suka semena-mena.

Ketika melihat ketidak samaan, cukup salahkan sikapnya tanpa harus merendahkan kehormatan alias membullynya.

Misal, ada seorang aktivis perempuan tidak berhijab lantas berteriak anti syariah.

Tetiba ia berhijab secara dadakan, meski jilbab alakadarnya.

Sikap orang yang cerdas, menentang keras siapa saja yang meremehkan bahkan menghinakan syariat.

Namun tanpa perlu juga menjatuhkan kehormatan sesama.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibimbing Allah Ta’ala.

Jika saja ia bersikap keras, maka larilah orang-orang disekitarnya.

Ingat ya! Allah Ta’ala yang langsung memuji Rasulullah dengan akhlak super luhur yang terbingkai indah dalam surat al qalam.

Bagaimana dengan akhlak anda? Siapa yang memuji? Diri sendirikah?

Karenanya, tidak lantas enteng berkata bagi siapapun seraya menggibah di medsos.

“Cie.. Cie… katanya nentang syariat, kok sekarang pake jilbab? “

” Hmmm..tumben neh si mba pake jilbab, biasanya… “

“Ada maunya ya pake jilbab, sist… “

Dan bla bla semisalnya…

Perkataan semacam ini, seolah merasa diri paling suci dan benar sendiri.

Padahal, bisa jadi lingkungannya sendiri itu liberal, sekuler, jauh dari agama, suka datang ke dukun, bahkan ada di antara saudara perempuannya yang belum berhijab.

Salahkan yang salah, benarkan yang benar. Itu sudah sangat cukup tanpa perlu lebay apalagi apatis.

Adapun menyinyir sepertinya itu hanyalah kebiasaan anda yang agak sulit dihilangkan.

Ustadz Guntara Nugraha Adiana Poetra

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *