100 % kita semua keturunan Nabi, sosok mulia yang sangat pandai bersyukur, bersabar, ahli ibadah, rajin puasa hingga sepanjang hayatnya.

Bahkan Fir’aun sekalipun yang memiliki nama asli Ar-Rayyan bin Al Walid, ada juga yang mengatakan Al Walid bin Ar Rayyan, konon sampai nasabnya ke putra sang Nabi, Sam.

Pun dengan manusia paling Mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai nasabnya ke ayah Nabi Ibrahim ‘alaihi assalam yaitu Tarukh (Azar) bin Nahur bin Sarug bin Raghu bin Faleg bin Abar bin Salih bin Arfakhsyad bin Sam dan sosok mulia.

Bedanya, antara Fir’aun dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sangat jelas, yang satu senang cari pengakuan, satu lagi kurang senang.

Fir’aun mengaku-ngaku paling mulia, bahkan mengaku tuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak menyangka bahkan tidak pernah berharap al kitab (quran) turun kepadanya, bahkan kemuliaan bersandar padanya sebagai penutup para Nabi.

Karenanya jika ada manusia yang mengaku-ngaku mulia dan memastikan dirinya adalah keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka wajib dipertanyakan. Kenapa?

Karena budaya mengaku-ngaku apalagi mencari pengakuan itu salah satu upaya merasa diri lebih suci dari selainnya , dan ini terlarang dalam agama.

Di negara-negara Arab yang jelas-jelas wajah Arab, bahasa sehari-hari Arab, lebih dekat jarak dan nilai sejarahnya.

Tidak ada yang mengklaim sebagai keturunan Nabi, karena mereka faham keniscayaan sejarah, bersifat hipotesa, dan perlu dipertanyakan kevalidannya sampai jelas warna benangnya.

Mereka juga terlihat lebih kalem, biasa-biasa aja, tidak menonjolkan diri, tebar pesona apalagi senang mencari pengakuan.

Jika anda masih ribut perihal SUPER SEMAR, masuknya Islam ke Indonesia yang ini belum lama-lama banget.

Apalagi merumuskan dan merentetkan sejarah silsilah anda yang umurnya lebih dari 1000 tahunan. Siapa yang bertanggung jawab kalau sudah begini?

Saya pribadi jika melihat silsilah keturunan, ada dari Prabu Siliwangi, bahkan nyambung juga ke kesultanan Demak menurut para sepuh di tanah leluhur kami yang bagan dan silsilahnya tertulis rapi.

Pertanyaan, apa saya iyakan begitu saja?

Saya lebih memilih diam, daripada mencari pengakuan. Untuk apa? Malah malu ngaku-ngaku juga! Ini juga terpaksa nulis apa kata sesepuh.

Andapun sama demikian, pasti ada yang kata kakek uyutnya sebagai keturunan wali songo, sultan, raja, bla bla sambil bimbang mendengarnya, antara percaya dan tidak percaya.

Maka cukuplah kebenaran yang valid 10000 %, bahwa kita ini semua pasti keturunan Nabi Nuh ‘alaihi assalam.

Hanya saja beda jalur dari ketiga anak sang Nabi, ada yang mungkin lewat Sam, Ham dan Yafits

Dan kemuliaan sejati itu ada di sini, bukan pada mencari pengakuan.

إن اكرمكم عند الله اتقاكم

“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.

Barakallah fikum.

Ustadz Guntara Nugraha Adiana Poetra

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *