Fenomena inilah yang menjadi tantangan tersendiri buat para calon ulama anak bangsa. Memang ada banyak faktor kenapa kita agak jarang mendapati tulisan asli para ulama negeri ini. Di antaranya yang paling mendasar adalah kurangnya jumlah para ulama.

Kalaupun ada kita temukan sosok ulama, kebanyakan memang masih agak kurang punya ‘nyali’ untuk menuliskan ilmunya. Barangkali karena mereka sangat tawadhdhu’ serta amat menyadari kadar dan kualitas keilmuan yang dimiliki masih sangat terbatas.

Namun kesadaran atas terbatasnya ilmu yang dimiliki bukan satu-satunya alasan dari kurangnya karya di bidang penulisan. Ada alasan lain yang lebih masuk akal, yaitu kurang terbiasanya mereka menuliskan ilmu yang mereka miliki.

Meski Indonesia berlimpah dengan lembaga pendidikan calon ulama, seperti pesantren, madrasah dan kampus-kampus Islam, tetapi ada yang perlu sedikit dicermati.

Nampaknya lembaga-lembaga pendidikan keislamam itu lebih sering mengasah kemampuan para siswanya di bidang keorganisasian, kesenian, olah-raga dan ketimbang mengasah kemampuan intelektualitas mereka dalam bentuk karya tulis. Bahkan dalam hal dakwah, jelas sekali bahwa yang lebih diasah adalah kemampuan dari segi verbal ketimbang kemampuan dari segi penulisan.

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *