CARI HARTA ITU SEPERLUNYA, CARI PAHALA SEBANYAK-BANYAKNYA. JANGAN DIBALIK!

Sengaja saya besarkan, sebagai penekan kalimat dan maknanya.

Namun meski demikian, tetap aja masih ada yang gagal faham.

Ada yang bilang,

“Cari harta sebanyak-banyaknya, biar nanti bisa berbagi”

Kalau seseorang itu cerdas..

Pertama, dalam masalah berbagi tidak perlu menunggu kaya raya.

Kedua, cari pahala sebanyak mungkin, itu sudah otomatis menderma.

Karena orang yang cinta dengan kebaikan ia akan memberikan segala apa yang ia miliki.

Suatu ketika ada seorang pemuda kaya raya, pengusaha sukses sekaligus pengoleksi barang-barang super mewah nan wah.

Warga negara Australia, setelah tersadar dari kehidupan glamournya, paska divonis kanker dan umurnya tidak lama lagi.

Ia pernah ditanya, apa yang hendak anda lakukan saat ini?

“SAYA INGIN MENGHABISKAN HARTA SAYA HINGGA TIDAK TERSISA DI SISA UMUR INI”

Bayangkan orang yang sudah kaya raya saja, ingin sekali menghabiskan hartanya karena lebih takut fitnah.

Anda malah mendekati fitnah itu…

Apa harus menunggu musibah atau sakit baru tersadar?

Ketiga, di tengah jalan ketika anda terobsesi menjadi kaya raya, tiba-tiba anda MATI.

Mau bilang apa?!

Keempat, belajar dari Al-Quran dan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pedoman manusia.

قل لو انتم تملكون خزائن رحمة ربي اذا لامسكتم خشية الانفاق وكان الانسان قتورا

“Katakanlah, sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Rabbku, niscaya (perbendaharaan) itu kamu tahan, karena takut membelanjakan (infak)nya, dan manusia itu memang sangat kikir”. (QS. Al Israa: 100)

Dalam isyarat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Jika seorang hamba diberi satu gunung emas, niscaya akan meminta lagi, begitu seterusnya, tidak ada rasa puasnya”.

Kelima, ucapan ” Cari harta sebanyak-banyaknya, agar bisa derma”

Agar bisa derma hanya lah pemanis bibir, yang sejatinya membenarkan hawa nafsunya saja.

ويريد الذين يتبعون الشهوات ان تميلوا ميلا عظيما

“Dan orang-orang yang mengikuti hasratnya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)” (QS. An Nisaa: 27)

Keenam, bertentangan dengan ucapan para Nabi, dan orang-orang sholeh.

Dalam sebuah isyarat hadist,

Bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukanlah banyaknya materi, namun kekayaan itu ada di dalam hati yang senantiasa merasa cukup.

Kalau sudah begini, para raja sampai manusia terkaya di muka bumi pun pasti sangat iri dengan orang-orang yang hatinya amat lapang alias kaya raya. (The power of qana’ah)

Ketujuh, bukan kebiasaan dan cita-cita orang-orang sholeh.

Para Nabi dan pengikut sholeh setelahnya sangat takut kepada Robb semesta alam.

Mereka bukan tipe orang yang terobsesi dengan dunia, apalagi tergila-gila karenanya.

Jikapun takdir menjadikan mereka kaya raya, pasti mereka akan menghabiskan seluruh hartanya.

Jadi kaya raya itu karena takdir semata.

Takdir itu kira-kiranya Allah Ta’ala, bukan kira-kiranya anda yaa.

Maksudnya, sesama tukang bakso atau penjual masakan padang.

Sama-sama usaha, namun hasilnya beda, ada yang sukses, biasa aja, ada juga yang bangkrut.

Manusia hanya disyariatkan berusaha maksimal, dan tentunya semampunya seraya terus berdoa.

Adapun berambisi dan terobsesi kaya raya, itu syariat dari mana?!

Takdir menjadikan kaya raya seorang Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, berasal dari keluarga raja.

Namun tetap saja karena kesolehannya, di akhir hayat, warisannya hanya apa yang menempel di tubuhnya, pakaiannya saja.

Yakin anda mampu berbuat demikian?

Kalau saya seh kurang yakin, mengingat dengan kehidupan anda yang suka mengeluh saja menunjukkan betapa lemahnya iman.

Kedelapan, harapan terbesar orang-orang soleh itu bukan jadi orang kaya.

Suatu ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkunjung ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Didapatinya sang Nabi bangun dari tidur yang hanya beralaskan sedikit kasar hingga berbekas di tubuhnya.

Iapun bertanya,

“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau melihat bagaimana kehidupan para pembesar Romawi dan Persia? “

Dengan tegas Rasul menjawab,

“Wahai Umar, tidakkah cukup dunia untuk mereka, sedang kehidupan akherat untuk kita?! “

Umar pun langsung menangis mendengar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Padahal bisa saja, Rasul berkata kepada Umar dan umatnya.

“Wahai umatku, carilah harta sebanyak-banyaknya, agar kalian bisa menderma”

Namun sekali-kali tidak demikian.

Bahkan jika saja para isteri Nabi lebih memilih dunia dengan segala perhiasannya.

Maka mudah saja Nabi memberikan kepada mereka, namun setelah itu berpisah.

Sebaliknya, jika mereka lebih memilih Allah dan RasulNya, maka yang demikian jauh lebih baik dari dunia dan seisinya.

Kesembilan, dalam hadist disebutkan kerugian menjadi orang kaya walaupun sama-sama masuk surga.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Orang fakir yang beriman akan masuk surga lebih dahulu dari orang kaya yang beriman, jaraknya setengah hari”

Anda tahu setengah hari di hari kiamat itu setara dengan berapa tahun di kehidupan kita?

500 tahun kawans.

Umur anda berapa sekarang?

Menunggu 60 tahun saja masih sangat lama sekali.

Anda siap menunggu 500 tahun untuk masuk surga???

Itu pun belum tentu langsung masuk surga. Ma’adzallah.

Nabi Adam ‘alaihi assalam pernah berada di surga sekitar 2 jam an saja.

Terhitung dari abis ashar sampai menjelang maghrib.

Itu saja setara dengan 130 tahun kehidupan di dunia.

Hanya sesaat namun ternyata sangat lama sekali.

Terakhir, daripada berambisi kaya raya, agar bisa menderma.

Saran saya, lebih baik belajar memperbaiki niat.

Belajarnya kapan dan sampai kapan?

Mulai sekarang dan sampai mati.

Kok lama banget?

Kelak di hari kiamat, banyak orang dilemparkan ke neraka lantaran salah niat.

Tahu kenapa dan siapa?

Salah satu golongannya, para penderma, namun niatnya melenceng.

Ingin disebut penderma, pahlawan, pejuang kebaikan dan semisalnya.

Terakhir banget neh, umumnya orang kaya raya, utangnya juga banyak.

Coba aja tengok, dibalik gaya hidupnya, ada lembaran hutang yang menghiasi pikiran dan hari-harinya.

Ustadz Guntara

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *