Ulama yang baik adalah yang mengatakan bahwa pendapat dirinya mungkin benar, namun dia juga mengakui bahwa bukan berarti dirinya selalu benar. Sementara dia boleh mengatakan bahwa pendapat orang lain mungkin salah, tetapi bukan berarti bahwa semua pendapat orang lain yang tidak sesuai dengan pendapat dirinya harus selalu salah. Itulah ciri ulama yang shalih dan tawadhu‘. Dan itulah ciri khas ulama di zaman salafusshalih di masa lalu.

Sungguh kita sangat merindukan munculnya ulama salafushshalih seperti ini, yang menenangkan umat, bukan bikin resah. Seandainya di zaman sekarang ini, para dai dan tokoh agama bisa meniru akhlaq para salafusshalih di atas, tentu umat Islam akan semakin pandai. Bahkan dijamin bid’ah akan semakin terkikis. Sebab umat akan dengan mudah memahami dan meresapi konsep kebenaran. Kalau memang sebuah perbuatan itu memang bid’ah betulan, maka dengan sendirinya dan dengan penuh kesadaran, mereka akan meninggalkannya. Tanpa harus dicaci maki atau ditolol-tolol-i.

Tetapi kalau yang umat terima hanya makian, cacian, ejekan, serta tudingan sebagai ahli bid’ah tanpa melihat situasi dan kondisinya, sangat boleh jadi umat bukan meninggalkan bid’ah, mereka malah bersikap memusuhi. Akhirnya, bid’ah tetap berjalan, karena orang yang bertugas memberantas bid’ah malah dijauhi umat. Bukan karena umat membangkang, tetapi karena para tokoh pembasmi bid’ah-nya oleh umat dianggap arogan serta kurang sopan.

Memberantas bid’ah itu hukumnya wajib. Tetapi kalau caranya malah bid’ah juga, maka hukumnya jadi haram.

Semoga Allah SWT memberikan jalan terbaik bagi kita semua untuk memberantas bid’ah dhalalah, serta menunjuki kita untuk memudahkan prosesnya dengan tetap berjalan di atas manhaj dari Rasulullah SAW.

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *