Di lautan nikmat
Dua makhluq berpisah
Yang satu tenggelam yang lain menyelam
Kau tahu apa bedanya?

Di lautan nikmat, seringkali kita tenggelam. Tanpa pelita penerang. Tanpa sinaran cahaya yang membuat kita bisa menatap lekat keindahan, keunikan, keajaiban, dan pesona hidup. Bahkan tanpa alat pernafasan yang membuat kita megap-megap mengutuki air terminum yang rasanya pahit-pahit asin.

Pada selaman nikmat, kita benar-benar harus menyertakan alat-alat pendukung yang berkualitas tinggi. Menikmati panorama, mata ini harus terbuka dengan kacamata terindah yang dipilihkan oleh Allah dan RasulNya. Memandangi lukisan alam, kita perlu pencahayaan sempurna dari karuniaNya. Kita baru benar-benar menjadi penikmat, ketika kita bersama ayat-ayat yang terang, beranjak dari kegelapan menuju cahaya, dan disanalah kasih sayangNya dirasa.

“Dialah yang menurunkan kepada hambaNya ayat-ayat yang terang, agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya. Dan sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadap kalian.” (QS. Al Hadid: 9)

oleh Salim A. Fillah dalam Motivasi

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *