Banyak khatam membaca kitab-kitab klasik maupun modern. Tidak perlu tanyakan soal membaca novel!!

Seharusnya lebih banyak khatam membaca alquran dari membaca apapun.

Sengaja tidak saya katakan,

“Seharusnya berbarengan dengan banyak khatam baca kitab”

Bangga menghafal matan-matan di luar alquran.

Seharusnya malu kalau alquran malah tidak pernah dihafal.

Alasan terbesar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kurang memperkenankan pembukuan teks-teks hadist.

Walaupun ada beberapa sahabat yang tetap menuliskannya.

Itu semata-mata kekawatiran beliau, manusia salah orientasi, atau kurang memprioritaskan kalam Allah Ta’ala.

Karenanya para ulama berlomba-lomba menghafal alquran, baru menghafal hadist dan selainnya.

Jangan dibalik, hafal matan segudang, namun hafal alquran tidak sama sekali.

Jika menghafal alquran saja lebih diutamakan dari menghafal hadist, apalagi menghafal selainnya.

Para ulama, mereka memberi perhatian lebih, sangat zuhud dalam berkhidmat kepada alquran.

Siang malam membaca kitab Allah tersebut, seraya terus mengajarkannya kepada sesama.

Tak heran, jika dalam hadist dari jalur Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

Bahwa sebaik-baik kalian itu orang yang belajar alquran kemudian mengajarkannya kepada yang lain.

Dalam atsar Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

“Jika saja hati kita suci, niscaya tidak akan pernah kenyang dari belajar (membaca) AlQuran”.

Diantara penyesalan terbesar para ulama besar di akhir hayat mereka biasanya hanya satu…

“Kenapa tidak terus menerus menyibukkan diri dengan alquran”

Ustadz Guntara Nugraha Adiana Poetra

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *