Selama ada nash yang shahih menyebutkan bisa kembalinya arwah orang yang sudah meninggal, tentu saja kita terima. Mau apa lagi bila kita berhadapan dengan nash-nash yang shahih?

Maka pe-er pertama adalah meneliti keshahihan hadits-hadits itu. Sampai di mana derajatnya, shahihkah atau dhaif? Ini perlu diklarifikasi agar kita tidak hanya menduga-duga. Tugas ini tentu harus kita serahkan kepada para muhaddits yang pakar di bidangnya, agar kita bisa pastikan keshahihan semua hadits tentang kembalinya para arwah.

Masalah lainnya yang sangat penting, anggaplah misalnya ada dalil shahih tentang kembalinya arwah dan bisa bertemu dengan kita di dalam mimpi. Tapi siapakah yang bisa menjamin bahwa yang kita lihat dalam mimpi kita itu arwah yang sesungguhnya, bukan jelmaan jin yang menyamar?

Sebagaimana kita tahu bahwa jin jahat sangat pandai menjelma atau meniru rupa manusia. Bahkan mereka bisa dengan mudah masuk ke dalam mimpi kita.

Kalau pun arwah orang shalih yang kita lihat itu bisa berkomunikasi dengan kita, kira-kira apa yang dibicarakan? Adakah bicara tentang informasi syariah? Bila sampai kepada informasi syariah yang baru dan belum diajarkan Rasulullah SAW, sudah bisa dipastikan bahwa hal itu bohong. Sebab ajaran Islam sudah sempurna 100% disampaikan kepada manusia. Tidak butuh lagi info tambahan dari dunia ghaib. Mempercayai arwah orang shalih dalam bentuk tambahan syariah adalah perbuatan melanggar aqidah yang benar.

Yang kami khawatirkan adalah bahwa syetan bisa memanfaatkan peluang ini untuk menyesatkan manusia. Awalnya, dia berpura-pura jadi orang shalih. Sehingga siapa pun yang berjumpa dengannya di alam mimpi akan percaya dan menuruti nasehatnya. Mungkin nasehat itu awalnya baik, tetapi siapa yang bisa jamin bila suatu ketika jin yng menyamar itu mulai menyesatkan, terutama pada saat seseorang sudah merasa bergantung dengannya.

Maka tindakan yang paling aman adalah kita doakan saja orang tua kita yang telah wafat, atau arwah orang-orang shalih itu. Tetapi jangan terlalu percaya dengan isi mimpi kita, apalagi ada muncul tokoh orang shalih tertentu.

Islam memerintahkan kita belajar dari orang shalih sungguhan, bukan dari orang shalih yang ada di dalam mimpi. Secara jalur sanad, orang shalih di dalam mimpi tidak sah sebagai perawi, sehingga tidak ada keharusan untuk mengikutinya, meski sekilas kelihatan benar.W

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *