Untuk mengetahui apakah sebuah paham atau pemikiran itu benar atau tidak, ada hal-hal yang perlu kita perhatikan:

1. Pemikiran itu harus bersumber dari Al-Quran atau As-Sunnah. Kalau tidak ada dasar dari keduanya, maka kita tidak bisa menerimanya sebagai bagian dari aqidah dan syariah Islam.

2. Dalam memahami serta beristidlal kepada Al-Quran, harus dilakukan sesuai dengan urutannya. Tiap ayat dari Al-Quran harus dipahami sesuai dengan ayat lainnya yang juga ada di dalam Al-Quran. Tidak boleh pemahaman dari ayat tertentu menjadi bertentang dengan ayat lainnya.

Dan demikian seterusnya, pemahaman yang kita ambil dari suatu ayat juga harus sesuai dengan hadits nabawi.

3. Demikian juga ketika kita mengambil kesimpulan dari hadits-hadits nabawi,tidak boleh bertentangan dengan ayat Quran atau hadit nabawi yang lainnya.

4. Dan khusus untuk sunnah nabawiyah, selain masalah metode istimbathnya, juga harus dipastikan bahwa kita hanya merujuk kepadariwayat-riwayat yangbisa diterima derajatnya, meski tidak harus shahih.

Dan masalah derajat keshahihan suatu riwayat sudah ada metodologinya sendiri, tidak boleh membuat-buat jalur periwayatan sendiri yang tidak punya dasar.

Kebanyakan masalah yang paling sering dipertanyakan dari kalangan ahli tasawuf adalah pada penyandaran hadits yang kurang kuat periwayatannya. Seperti hadits pertama di atas yang tidak dicantumkan siapa perawinya, sehingga kita tidak tahu sejauhmana tingkat validitasnya.

Selain itu juga seringkali kesimpulannya terkesan parsial, tidak memperhatikan adanya dalil-dalil lainnya yang sebenarnya bertentangan. Padahal mengambil dalil secara parsial merupakan tindakan yang sangat berbahaya.

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *