Untuk mengetahui makna lebih dalam suatu ayat, selain menguasai bahasa arab, penting juga bagi kita untuk membuka kitab tafsir. Karena di dalam kitab-kitab tafsir, para ulama sepanjang 14 abad telah menulis berbagai penafsiran dan penjelasan yang nyaris kita jarang membacanya. Lantaran kitab-kitab tafsir itu umumnya masih berbahasa arab.

Sementara yang dibaca oleh kebanyak umat Islam di Indonesia sebatas terjemahan Al-Quran, sama sekali tidak mencukupi untuk bisa mengenal lebih dalam tiap maksud dan pengertian dari ayat-ayat Al-Quran.

Mari kita buka satu kitab tafsir, misalnya Tafsir Al-Qurthubi yang ditulis oleh ulama besar dari Qurthubah, Spanyol. Kitab ini menarik karena cukup luas membahas ayat-ayat Al-Quran serta menjelaskan banyak hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

Di sana disebutkan bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa Iblis termasuk yang diwajibkan untuk bersujud, karena saat itu Iblis masih termasuk ke dalam kategori malaikat.

Simak bin Harb meriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, “Iblis dulunya adalah bagian dari malaikat, namun ketika dia bermaksiat Allah SWT marah kepadanya. Lalu Allah melaknatnya hingga menjadi syetan.”

Masih menurut Ibnu Abbas ra, Iblis itu dahulu adalah malaikat yang bernama AzazilAzazil termasuk senior malaikat. Dalam riwayat yang lain, namanya Al-Harits. Nama Azazil adalah nama dalam bahasa Ibrani dan Al-Harits adalah nama dalam Arab.

Sedangkan menurut Al-Mawardi yang menceritakan dari Qatadah, “Iblis itu awalnya jenis yang paling afdhal dari jenis-jenis malaikat. Namanya Al-Jinnah”

Said bin Jubair berkata bahwa jin adalah bagian dari malaikat, tetapi dari jenis yang diciptakan dari api, dan iblis termasuk bagian ini. Sedangkan keseluruhan malaikat terbuat dari cahaya.

Ibu Zaid, Hasan dan Qatadah berkata bahwa Iblis adalah ayah dari bangsa jin, sebagaimana Adam adalah ayah dari bangsa manusia.

Jadi dari satu kitab ini saja kita bisa tahu bahwa Iblis termasuk pihak yang diperintahkan untuk bersujud kepada Adam alaihissalam. Dan ketika Iblis membangkang, Allah SWT pun melaknatnya dan memasukkannya ke dalam neraka.

Wallahu a’lam bishshawab,

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *