Ketika setan disebut dengan istilah “Aduwwun Mubin”, musuh yang paling nyata, maka tugas kita selaku manusia adalah betul-betul menjaga diri dari serangannya melebihi penjagaan kita dari serangan musuh ketika berperang. Karena setan itu punya peluang besar, kita kendor dia menang, kita ghuluw berlebihan dia juga menang, makanya ciri Ahlussunnah adalah pertengahan antara dua kubu yang keluar jalur.
.
Di antara jalan setan menyesatkan manusia adalah dengan cara mimpi, makanya kalau anda menemukan ada orang yang mengaku bermimpi dan di dalam mimpi itu ia mendapatkan hadits bahwa puasa Ramadhan tidak wajib lagi, maka pastikan bahwa itu berasal dari setan. Ada juga yang bermimpi seolah mendapat wahyu, tapi ternyata itu semua hanya bisikan setan.

Cohtoh kasus: Pada awal tahun 1400 H, ada sekelompok orang yang menyerang jama’ah yang berada di Masjidil Haram, mereka melarang jama’ah melakukan shalat dan thawaf. Ternyata sebabnya adalah ketika itu ada seseorang yang mengaku Imam Mahdi, dan beberapa orang bermimpi dengan mimpi yang sama bahwa itu adalah Imam Mahdi asli yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallāhu alaihi wasallam. Akhirnya mereka ingin membaiatnya di Masjidil Haram yang mengakibatkan kericuhan. Terakhir mereka semua bisa diamankan dan divonis mati.
.
Mengenai kisah di atas, Syaikh Hamud At-Tuwaijiri mengatakan: “Syaithan menipu mereka dengan mimpi dusta, kemudian ia pergi dan menjerumuskan mereka kepada kematian”.
.
Beliau juga menukil sebuah kisah dari Kitab Nazhrah ‘Abirah tentang apa yang terjadi di India dan Pakistan bahwa ada sebagian orang yang dikenal sebagai orang shalih, mereka bermimpi menyembelih anak-anak mereka. keesokan harinya mereka melaksanakan mimpi itu dengan anggapan bahwa itu merupakan ilham dan perintah dari Allah. Ketika ditanya, mereka mengatakan bahwa mereka melaksanakan sunnah Nabi Ibrahim alihissalam yang mana beliau diperintah untuk menyembelih anaknya. Mereka lupa bahwa mimpi Nabi adalah wahyu sedang mimpi mereka bukan wahyu!. (Lht. Kitāb Ar-Ru’yā, hlm. 196-197).
.
Nas’alullahal ‘afiyah.

Fitra Hudaiya NA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *