Kala anda mengagumi seseorang, maka ucapkanlah,

“MasyaAllah”.

Bukan sebaliknya,

Memuji berlebihan dan terus membanggakannya dengan segala karunia yang dimilikinya.

Suatu ketika di era Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ada seorang pemuda memiliki kulit yang sangat bagus, wajah amat tampan.

Iapun dipuja dan dipuji oleh sesama.

Tak lama berselang, yang bersangkutan jatuh sakit, lemah tak berdaya.

Cukup anda ketahui,

Pujian anda kepada idola anda atau sosok yang anda kagumi.

Sejatinya pembunuhan secara perlahan.

Bahkan para salaf amat tidak menyenangi puja dan puji manusia.

Seraya menangkis pujian mereka seraya berucap.

“Antum hampir saja memenggal leherku”

Pujianmu adalah pisaumu, maka Berhati-hatilah.

Jangan sampai engkau membunuh banyak orang.

Baru saja kemarin terjadi.

Sewaktu saya bermain futsal bersama rekan-rekan.

Kala itu kiper lawan tampil sangat elok, menyelamatkan gawangnya.

Alhasil teman se teamnya memujinya berlebihan.

Tak lama berselang, bahkan dalam hitungan detik.

Kiper tersebut kebobolan oleh tim kami, dengan gol yang sangat mudah.

Saya pun nyeletuk,

“Wah… Kena ‘ain tuh kipernya”

Kemudian dibalas senyuman oleh tim lawan seraya menyesal dengan berucap.

“MasyaAllah”

Karenanya jika anda melihat sosok hebat, tampan, cantik, dan aneka kekaguman lainnya.

Maka biasakankah berucap,

“MasyaAllah”

Bukan menjadikannya sosok yang terbalik dengan pujianmu.

Awalnya hebat, kemudian berubah keok, jelek, dungu, sakit kemudian mati mengenaskan.

Guntara Nugraha Adiana Poetra

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *