Dahulu orang lari dari tanah suci, karena menghindari kekuasaan, ketenaran dan segala unsur duniawi.

Sufyan Ats-tsauri rahimahullah, sosok ulama besar di tanah haram.

Ia pernah menjadi orang paling dicari-cari di zamannya, bahkan diadakan sayembara.

Sesiapa saja yang bisa menangkapnya, dijanjikan hadiah istimewa.

Alhasil, berbulan-bulan dalam keterasingan, tiada orang mengenalnya.

Sosok terkenal, berubah menjadi buruh kasar di perkebunan kurma di tanah Yaman.

Semata-mata untuk menyambung hidup dalam perantauannya.

Singkat cerita, ia pun mengakhiri pelarian.

Kemudian ditanya,

“Apa yang menyebabkan engkau lari, duhai Sufyan? “

“Masih banyak yang lain, lebih berkapasitas” Jawab beliau singkat.

Namun alasan sebenarnya, ia hanya takut memikul amanah berat sebagai pemangku kepentingan.

Kisah lainnya, dahulu di Madinah, ada seorang pemuda.

Ia getol beribadah di masjid al haram, siang malam khusu’ di dalamnya.

Hingga suatu ketika, terjadi musim paceklik berkepanjangan.

Sang pemuda akhirnya beribadah tidak seperti biasanya seraya memohon kepada Robbnya.

Alhasil prilaku tersebut diketahui jemaah sekitar yang selalu memperhatikan hari-hari si pemuda.

Tak lama kemudian, Madinah pun menjadi segar kembali, musim kering berubah seketika.

Sontak saja, hal demikian membuat penasaran jemaah sekitar yang melihat kebiasaan si pemuda saat beribadah di masjid al haram.

Hingga ada satu jemaah mengikutinya sampai ke rumah si pemuda tersebut.

Alih-alih senang, atau disambut hangat oleh si pemuda.

Malah si pemuda wajahnya menghitam ketika kebiasaannya menjadi perhatian.

Apalagi dikaitkan dengan kondisi Madinah sebelumnya.

Tak lama kemudian, ia pun pergi meninggalkan tanah haram hingga tak nampak batang hidungya dalam tempo amat lama.

Dalam kisah lainnya, bahkan ada sosok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rela hidup dalam kesunyian dan kesepian di tengah padang pasir.

Alasannya ternyata sederhana…

Menghindar dari sebuah jabatan yang hendak disematkan kepadanya.

Sampai beliau pun menjadi sosok paling dikejar-kejar oleh pihak kerajaan.

Bahkan sampai matinya, beliau tetap berada di gubuk amat memprihatinkan di tengah padang pasir.

Itulah kisah sahabat mulia, terkenal dengan kesolehannya, yang jika berdoa, maka Allah Ta’ala perkenankan.

Dialah sahabat yang paling terakhir hidup dalam sejarah kehidupan para sahabat Nabi.

Dahulu orang-orang soleh rela meninggalkan tanah suci demi menghindari fitnah dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi tauladan dalam menerangkan “what love is?!”.

Pergi meninggalkan tempat suci, tanah kelahiran, kampung halaman yang sangat dicintainya demi kebenaran.

Namun kini sebaliknya.

Berbondong-bondong manusia ke tanah suci demi sebuah hasrat.

Guntara Nugraha Adiana Poetra

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *