Kita sering mengucakan bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Atau dunia ini fana. Ungkapan itu seringkali kita ucapkan tanpa sadar bahwa hal itu memang benar.

Coba saja bayangkan, kalau ada seseorang meninggal hari ini tahun 2007, dan misalnya Allah SWT mentaqdirkan kiamat terjadi tahun 3000 Masehi, maka masa kehidupan seseorang di alam lain setidaknya mencapai 993 tahun.

Siapakah orang di dunia ini yang hidup selama 993 tahun? Mungkin hanya Nabi Nuh saja yang pernah mengalaminya. Tapi kita manusia biasa, adakah yang mencapai usia sepanjang itu?

Paling panjang hidup kita hanya 100 tahun. Itu pun penuh penderitaan, karena sebagian besar dari hidup kita jalani dengan segala kekurangan. Badan pasti ringkih, gigi tanggal semua, pipi peot alias kempot, mata rabun, jalan terseok-seok, Dan sedikit-sedikit orang pada nyumpah, ” Ini aki-aki udah tua mau ngapain sih, udah bau tanah bukannya mati aja.”

Itu kalau meninggalnya tahun ini. Lantas bagaimana yang meninggalkan sejak zaman dahulu, sejak masa para nabi atau sejak zaman nabi Adam? Pasti lebih lama lagi hidup di alam berikutnya.

Dan di alam berikutnya, kita tidak mengenal isitlah mati. Kita menjadi immortal di alam itu. Istilah mati hanya ada kalau menurut sudut pandang orang yang hidup di alam dunia ini. Padahal yang sesungguhnya terjadi, kita tidak mati. Kita hidup terus dan berpindah ke alam lain yang asing, aneh, tak terjangkau teknologi apapun. Sebab semua adalah ciptaan Allah semata.

Tinggal yang perlu kita pikirkan, bekal amal shalih apa yang kita bawa dan seberapa besar dosa-dosa yang kita pikul hingga masuk alam kubur. Nasib kita di alam kubur ditentukan oleh dua indikator itu. Amal baik dan dosa. Kalau amal baiknya banyak dan berkualitas sedangkan dosa-dosanya minim, sedikit atau malah kosong sama sekali, maka kehidupan jilid II kita di alam kubur akan sangat sangat membahagiakan.

Sebaliknya, kalau amal sedikit sementara dosanya segede-gede gunung, maka menangislah sejak sekarang. Karena kehidupan di alam barzakh bagi orang seperti ini terlalu amat sangat tidak enak.

Lewat informasi pesan Al-Quran yang kita terima, saking tidak enaknya sampai orang-orang akan menghiba kepada Allah, kenapa dahulu waktu di dunia tidak jadi tanah saja, kenapa harus jadi manusia. Tapi sesal kemudian tiada guna.

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah.” (QS. An-Naba’: 40)

Jadi nasib kita di next life sangat ditentukan oleh the present life sekarang ini. Tinggal kita renungkan saja.

Wallahu a’lam bishsawab,

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *