Bai’at adalah janji setiap kepada imam atau kelompok tertentu, atas ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dahulu Rasulullah memita kepada para shahabat untuk berbai’at anshar, saat menjelang hijrah ke Madinah. Tersebut ada dua kali bai’at khusus untuk masalah ini, yaitu Bai’at Aqabah I dan II.

Selain itu di masa Rasulullah SAW juga kita kenal ada Bai’at Ridhwan, yang dilakukan di bawah pohon. Peristiwa ini diabadikan di dalam Al-Quran Al-Kariem:

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. (QS Al-Fath: 18)

Pada masa berikutnya, bai’at identik dengan pernyataan kesetiaan dari para shahabat untuk mengangkat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. sebagai khalifah Rasulullah SAW dan amirul-mukminin (pemimpin tertinggi orang-orang beriman). Demikian juga Umar bin Al-Khattab ra, Utsman bin Al-Affan ra dan Ali bin Abi Thalib, ketika merekamenjadi khalifah-khalifah berikutnya, prosesinya dengan cara orang-orang berba’iat kepada mereka.

Di zaman sekarang ini, beberapa jamaah dan kelompok Islam juga menggunakan prosesi bai’at untuk mengangkat pemimpin di antara mereka. Jamaah yang menjadi anggota kelompok itu berbai’at untuk mengakui pimpinan mereka sebagai orang yang akan dipatuhi dan ditaati, dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Namun dalam suatu kasus tertentu, mungkin saja terjadi ketidak-sepakatan antara anggota dengan pimpinan yang terlanjur diba’atnya, baik karena faktor internal maupun eksternal.

Kejadian seperti ini bukan hal yang aneh, sebab sepanjang sejarah, memang seringkali terjadi. Dan kejadian seperti ini sangat manusiawi, karena tidak selamanya seorang imam itu berjalan di atas manhaj yang benar, ada kalanya seseorang itu lalai. Demikian juga, tidak menutup kemungkinan ijtihad suatu jamaah itu meleset dari arah semula. Dan masih banyak hal lain yang bisa menjadi faktor hilangnya tsiqah (kepercayaan) dari seorang anggota kepada jamaahnya.

Kita tidak bisa memudahkan masalah dengan langsung memberi vonis bahwa siapa yang pernah berbai’at, lalu mencabut kembali kesetiaannya, adalah pengkhiatan yang halal darahnya. Sebab yang namanya bai’at itu berbeda dengan syahadat. Bai’at hanya ikrar kesetiaan kepada imam atau jamaah tertentu, sedangkan syahadat adalah ikrar untuk menjadi muslim. Keduanya tentu sangat berbeda dan aneh kalau dicampur-aduk.

Wallahu a`lam bishshowab.

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *