Para pecinta, bukan saja belajar memperbaiki bacaan alqurannya, namun berupaya menghafal setelahnya.

Saya kenal dekat lulusan S2 ilmu komputer di salah satu kampus negeri paling bergengsi di tanah air.

Saat ini ia bekerja di perusahaan asing bidang telekomunikasi, ia ibarat security, tugasnya menjaga sistem jaringan.

Ayah dari 3 anak dan 1 isterinya, sehari-hari sibuk bekerja, pergi pagi pulang malam, begitu seterusnya.

Namun yang bersangkutan, bertekad kuat ingin menghafal quran seutuhnya.

Keinginannya tersebut, disampaikan di hadapan saya seraya dipraktekkan dengan besarnya usaha yang dilakoninya.

Saat ini sekitar 10 juz hafalannya, 
bahkan lebih, terhitung 5 juz terakhir, albaqarah, ali Imran, masuk an nisaa dan beberapa surat pilihan semisal al Kahfi, dll.

Saking besar kecintaannya kepada alquran, ketiga anaknya ia ingin cetak menjadi penghafal quran.

2 perempuan, 1 sudah disekolahkan di mahad yang berorientasi kepada alquran, 1 nya lagi masih SD, dan yang laki-laki masih kanak-kanak.

Saya pun menyentilnya dengan pertanyaan,

“Bagaimana bapak bisa mempunyai hafalan sekian banyak, padahal sehari-hari bapak sibuk bekerja? “

Disinilah saya terenyuh mendengar jawaban yang terdengar sederhana, namun tidak semua mampu melakukannya.

“Saya menghafal di dalam kereta, selama bertahun-tahun”

Bagaimana caranya? Tanya saya kembali

“Dengan mendengar murottal seorang qari, dan terus diulang-ulang dalam perjalanan pergi dan pulang”

Sayapun iseng bertanya soal hafalannya, dan ternyata memang hafal.

Si bapak yang usianya sekitar 40 tahunan ini, bisa meneruskan ayat yang saya lontarkan.

Kisah ini sudah berjalan sekitar 3 tahun lalu, namun sengaja tidak saya ceritakan terlebih dahulu.

Karena setiap tahunnya kami bertemu, si bapak terus menambah hafalannya dan sekarang bisa jadi sudah belasan juz.

Bapak tersebut adalah teman itikaf saya, kami berjumpa hanya setahun sekali, itupun hanya 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

Oya satu hal lagi yang menarik dari si bapak, cuti tahunannya selalu digunakan khusus untuk itikaf.

Dengan harapan, bisa memaksimalkan ibadah di dalamnya.

Jadi ketika para pegawai, PNS/ASN dan semisal masih sibuk bekerja bahkan menjelang lebaran masih juga kerja.

Si bapak fokus dengan hafalannya di bulan penuh berkah nan mulia.

Hikmah disini,

“Jika seseorang mencintai alquran dengan tulus, gesekan sebesar apapun bukan menjadi penghalang untuk tetap membacanya”

Toh, berapa banyak orang yang dalam “keterbatasan”, namun bisa menjadi ahli quran.

Diantara mereka ada yang buta, lumpuh, diberi ujian berat, sakit berkepanjangan, menua, kesulitan, kesedihan, bahkan kesibukan yang teramat sangat.

Namun mereka bisa menyelesaikan hafalan qurannya, lebih dari itu, mereka juga bisa lebih mutqin dari manusia normal pada umumnya.

Kenapa bisa demikian?

Silahkan telusuri sendiri jawabannya.

Guntara Nugraha Adiana Poetra

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *