Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur. Bagi sebagian orang, mimpi adalah sekedar bunga tidur yang perlu dilupakan dalam waktu secepat-cepatnya. Namun ada sebagian yang meyakini mimpi adalah bagian dari firasat akan suaru peristiwa.

Al-Qur’an meyebut mimpi dalam dua bentuk kata, yaitu adghasu ahlam dan ru’ya. Keduanya memiliki makna dan kondisi yang berbeda. ra’yu itu merupakan mimpi yang bisa menyingkap misteri alam ghaib atau kejadian yang bersifat futuristik. Sedangkan adghasu ahlam merupakan mimpi yang sulit ditafsirkan, yang mesti dijabarkan dalam analisa mendalam. Seperti QS Yususf ayat 44;

قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ ۖ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الْأَحْلَامِ بِعَالِمِينَ

Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu”.

Ditemukan pengaruh Al-Qur’an yang sangat jelas pada penjelasan para filosof tentang mimpi. Ibnu Sina umpamanya menjelaskan bahwa mimpi yang benar terjadi sebagai akibat dari hubungan jiwa dengan malakut atau alam malaikat pada saat tidur (akal aktif). dan diperoleh wahyu atau ilham darinya. Adapaun mimpi yang kacau balau, menurutnya terjadi lantaran pengaruh sensasi fisik.

Mungkin teori barat seperti pemaknaan mimpi yang sekedar produk psikis yang tidak sengaja dan spontan berbeda dengan pemaknaan mimpi dalam psikolog Islam. Menurut Al farabi, pada saat manusia tidur, daya imajinasi dapat mengakses sketsa-sketsa indrawi yang disimpan. Selanjutnya daya imajinasi menyusun dan memisahkan sketsasketsa tersebut dan kemudian melakukan imitasi dengan menyusun sketsa indrawi yang tersimpan sesuai dengan pengaruh yang manusia alami pada saat tidur.

Begitu pung dengan Ibn Khaldun, beliau memaparkan bahwa mimpi adalah sebuah kesadaran yang timbul dalam jiwa rasional yang berada dalam spiritualnya, sebagai bentuk percikan dari bentuk-bentuk peristiwa. Begitu jiwa itu menjadi jiwa spiritual, maka bentuk- bentuk peristiwa itu memiliki eksistensi yang aktual didalamnya, sebaimana yang terjadi dengan semua esensi spiritual lainnya.

Dari pendapat ahli psikologi Islam di atas dapat disimpulkan, bahwa tidur secara jasmaniah merupakan kondisi istirahat manusia. Secara ruhaniah, ruh manusia dapat melepaskan diri dari ikatan sunnah badan manusia untuk sementara waktu. Tidur adalah pisahnya ruh dari jasad manusia. Jasad manusia tertidur, sementara ruh tetap hidup (terjaga) dan dapat beraktivitas sesuai dengan sunnahnya. Karena tidak terikat oleh sunnah badan, maka ruh dapat memainkan fungsinya dan sunnahnya seluas-luasnya yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Di dalam tidur, ruh mampu menembus segala alam tanpa ada halangan yang berarti, baik alam empiris biologis maupun alam arwah. Hal tersebut senada dengan firman Allah dalam QS Az Zumar ayat 42:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir

Oleh : Silmi Adawiya

Sumber : bincangsyariah.com

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *