Kita mengerti jika isi Al Qur’an tidak melulu membahas tentang kajian orang terdahulu, akan tetapi juga menghadirkan rangkaian kata yang memiliki makna yang luas dan dalam. Salah satunya adalah penyebutan ahli dzikir dalam QS Al Anbiya ayat 7. Allah berfirman di dalamnya:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.”

Disinilah Allah menyebutkan bahwa yang datang kepada mereka yang lalai adalah manusia, bukan malaikat. Bahkan dalam Tafsir Ibn Katsir menyebutkan bahwa ini merupakan nikmat Allah yang sempurna kepada makhluk-Nya. Namun untuk memahami siapa ahli dzikir itu, sebaiknya kita juga bisa menelaah ayat dalam QS Al Nahl ayat 44:

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu adz-dzikrah (Al-Qur’an) agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan

Pada cuplikan ayat di atas, Allah menggunakan “adz dzikrah” untuk menyebut Al Qur’an. Maka kolerasinya dari ayat sebelumnya adalah seseorang yang mengerti dan faham tentang Al Qur’an. Dalam Tafsir Ibn Katsir, sebutan tersebut paling umum disematkan kepada para ulama. Seseorang yang tentu memiliki pengetahuan yang tinggi dan juga memahami segala aspek tentang Al Qur’an.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya pernah memaparka sebuah keterangan terkait ahli dzikir tersebut dalam karya beliau  Secercah Tinta.  Beliau menyatakan bahwa ahli dzikir adalah para wali dan para ulama yang dalam hatinya terdapat rasa takut (khasyyah) kepada Allah SWT. Tidak hanya wali dan ulama, manusia manapun yang  yang mempunyai ketaatan dan rasa takut kepada Allah juga termasuk ahli dzikir. Beliau juga mengingatkan bahwa ahli dzikir bukan sekadar orang yang pintar. Dengan artian semua orang pintar bukan berarti ahli dzikir.

Dengan begitu, jika kita ingin bertanya sesuatu, maka bertanyalah kepada kepada orang berpengetahuan dan juga memiliki ketaatan dan rasa takut kepada Allah, bukan hanya yang pintar saja.

Kenapa tidak diartikan kepada ‘orang yang memiliki ilmu pengetahuan’ saja? Pada dasarnya ilmu pengetahuan itu luas sekali. Dan jika yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang ahli dalam ilmu pengetahuan –selain ulama’- maka mereka mungkin hanya tahu hal-hal yang kasat mata saja, hanya mengerti hal-hal yang dapat terjangkau oleh sains mereka.  Mereka mungkin tahu mana yang baik (haq) dan mana yang bathil, namun belum tentu mereka mengamalkannya. Seorang koruptor, misalnya, mereka bukanlah orang-orang yang tidak berpendidikan. Mereka adalah orang-orang yang paham hukum. Namun, justru karena ilmu yang dimilikinya mereka mampu melakukan korupsi.

Oleh : Silmi Adawiya

Sumber : bincangsyariah.com

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *