Saat ini kita kembali disuguhkan pemberitaan saling tuduh. Tuduh menuduh meningkat seiring meningkatnya rasa saling curiga. Tidak hanya curiga kepada lawan kita sudah sampai pada tahap curiga walau terhadap sesama saudara, kawan, sesama bangsa, bahkan sesama agama.

Pertanyaannya adalah mengapa itu terjadi? Jawaban yang pasti akan sangat sulit. Setidaknya ada satu alasan mengapa hal itu terjadi, tidak lain karena kondisi kita yang memang krisis kepercayaan.

Mengapa krisis kepercayaan itu muncul? Sebab utamanya adalah karena hilangnya rasa pemersatu dari masing-masing diri kita. Seorang muslim tidak percaya lagi kepada muslim lainnya, rakyat tidak percaya lagi kepada pemerintahnya, pihak berperkara tidak percaya lagi pada hakimnya.

Merujuk pada para pendahulu kita, mereka disatukan sebagai bangsa Indonesia karena semangat melawan penjajah. Satu tujuan yaitu untuk menciptakan kemerdekaan diri sebagai pribadi dan sebagai bangsa. Saat itu kita tidak permasalahkan kamu agama apa, kamu suku mana, kamu dari mana bahkan mungkin terpikir pun tidak. Tapi sekarang kemana itu semua?

Berkaca kepada usaha Rasulullah saw sebagai suri tauladan umat, tentunya tidak hanya bagi umat muslim tapi juga umat agama lain. Untuk menciptakan ketentraman beliau meperpersaudarakan antar suku dan agama atas nama kemanusiaan. Perjanjian hudaibiyah, piagam madinah, dan berbegai perjanjian lainnya, misalnya.

Kesepakatan yang dibuat oleh Rasulullah saw, merupakan usaha untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi tercapainya ketentraman dalam berkehidupan. Rasulullah tidak pernah menjadikan sebagai pemicu terjadinya intoleransi, karna perbedaan itu adalah satu kepastian. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Maidah ayat 48.

Bahkan Rasulullah saw ketika Fathul Makkah, beliau tidak membunuh orang-orang non muslim yang ketika itu sudah takuluk. Beliau dengan lantang mengatakan bahwa mereka aman di bawah lindungan beliau. Ketika itu sudah ada kekhawatiran dari kaum kafir bahwa Rasulullah akan membalaskan dendamnya karena telah diusir bersama umatnya dari tanah kelahiran mereka. Namun prasangka itu hanya tinggal prasangka, sikap Rasulullah saw melindungi siapapun yang taat dan patuh terhadap hukum yang ada.

Perlu kita ingat bahwa usaha ini tidak mudah dilakukan, mengingat pada masa ini tingkat ego kesukuan sangat kuat, tidak jarang hanya dengan persoalan kecil dapat menyulut peperangan besar. Namun Rasulullah saw berhasil menciptakan peradaban antar sesama manusia. Peradaban sebagaimana tujuan diutusnya Rasulullah saw, sebagaimana yang sering kita dengar, beliau bersabda, innama bu’istu li utammima makarimal akhlaq artinya sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Dari berbagai peristiwa di atas, sistem kemasyarakatan yang dibentuk oleh Rasullullah saw bukanlah masyarakat yang sama, sama pemikiran, sama keyakinan atau sama rasa. Tapi masyarakat yang mampu memahami kekurangan, menghargai perbedaan, dan saling mengisi satu sama lain. Karena itulah mengapa perbedaan warna kulit, perbedaan pendapat antara Aisyah dan Abu Hurairah tidak menimbulkan pertikaian antara sesama manusia. Alasan itu pulalah mengapa Rasulullah sampai percaya untuk berhutang kepada pedagang Yahudi atau menikahi perempuan yang bapaknya beragama yahudi.

Karena bagi Rasulullah saw dan para sahabatnya perbedaan bukanlah alasan untuk terjadinya perpecahan dan hilangnya saling percaya. Wallahu a’lam bis shawab.

Oleh : Abdul Karim Munte

Sumber : bincangsyariah.com

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *