Hijrah merupakan salah satu tema yang berasal dari khazanah keislaman yang cukup mendapatkan sorotan akhir-akhir ini. Belakangan, hijrah mulai menjadi fenomena dan perlahan menjadi tren serta gaya hidup. Hijrah hari ini bahkan bisa menjelma dalam selebrasi perayaan seperti dalam acara Hijrah Fest yang diadakan di Senayan, beberapa waktu lalu, yang saya dengar tiketnya cukup laris manis sehingga panitia terpaksa memberikan tiket tambahan di hari ketiga. Meski tiketnya terbilang cukup mahal, seharga dua tiket nonton di bioskop.

Sembari mengamati dan menikmati geliat tren hijrah yang berkembang hari ini, alangkah bijaknya jika kita kembali menelisik apa sebenarnya makna hijrah dalam hadis Nabi Muhammad Saw.

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إنما الأعمال بالنيات – وفي رواية: بالنية – وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه”

Dari Sahabat Umar bin Khaththab ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya sesuai ke mana dia hijrah.’” (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam hadis ini, sebelum menjelaskan tentang hijrah Nabi membahas tentang niat. Yang mana dalam pembahasan fikih, para ulama selalu mengaitkannya dengan ibadah seperti thaharah dan shalat. Di mana keduanya tidak akan sah tanpa adanya niat.

Karena itu Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan menurut para ahli fikih bahwa pembahasan tentang niat adalah sepertiga dari pengetahuan agama. Lebih lanjut Imam Syafii mengatakan niat dibahas kurang lebih dalam 70 bab dalam ilmu fiqih.

Yang menarik sebab diturunkannya hadis ini bukan membahas tentang ibadah tapi karena ada seorang sahabat muhajirin yang  ingin berhijrah ke Madinah bukan demi mendapatkan keutamaan hijrah akan tetapi demi menikahi seorang wanita yaitu Ummu Qais.

Ibnu Daqiq al-‘Id menjelaskan dalam kitab Ihkamu al-Ahkam bahwa memang dalam hadis ini Nabi tidak menyebutkan tujuan-tujuan duniawi lainnya melainkan hanya menyebutkan wanita. Akan tetapi keumuman hadis ini ditujukan untuk setiap orang yang hijrahnya hanya berniatkan untuk urusan duniawi maka ia hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya.

Perlu diketahui esensi hijrah adalah meninggalkan apa yang dilarang secara syar’i. Berubah dari tidak baik menjadi baik. Merubah perangai kurang baik menjadi baik. Bukan hanya tampilan luar tapi juga penampilan dalam. Jika hijrah hanya sebatas mengikuti tren tanpa menghayati esensi hijrah itu sendiri maka tentu hijrah yang dilakukan hasilnya sesuai apa yang diniatkan. Wallahu’alam.

Oleh : Neneng Maghfiro

Sumber : bincangsyariah.com

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *